12 April 2009

Berharap pada Award
Sebuah Catatan Penjurian Karya-karya Nominasi IAI Award 2008

Eko Prawoto, arsitek, seniman instalasi, dosen senior UKDW, Jogjakarta

...menunggu gambar...A relativist and relational sense of pluralism of cultural values makes it possible to perceive the diverse social, ethical and philosophical ‘grounds’ (or foundations) on which systems of cultural and historical value are constructed in relation to each other’s differences and specificities. Such a relational sense of cultural value – based on cultural difference and intercultural dialogue-is far better suited to a global ethic of inter-regional and transnational connection than to a normative, regulative idea of progress that imposes a reign of homogeneity and hierarchy over other cultures and societies.

Homi K. Bhabha (Architecture and Thought, Intervention Architecture, Building for Change, Aga Khan Award for Architecture 2007)


emikiran arsitektur di belahan dunia yang lain bergumul dengan berbagai issue besar: tentang keragaman budaya, krisis lingkungan, inovasi teknologi, atau juga bagaimana kaum praktisi ini dapat tetap hadir berarsitektur dalam ‘tekanan’ pemilik modal untuk mewujudkan idealisme sosialnya, dan banyak lagi. Praktek arsitektur di kota besar Indonesia (dominasi Jakarta masih sangat nyata) tampaknya masih berjalan nyaman pada ranah ekplorasi estetik ataupun upaya menggapai pencapaian wadag visual yang sensasional demi kepuasan kalangan atas. Tentu ini tidak serta merta dipersalahkan.

Hanya kemudian ketika media mengkomunikasikan bagi khalayak yang lebih luas , tanpa ada kajian kritis yang menyertainya, maka trend metropolitan ini segera di serap dan diadopsi oleh kota-kota didaerah sebagai kebenaran dan barometer kemajuan berasitektur. Wajah kota-kota di Indonesia pun menjadi nyaris seragam.

Proses produksi/perancangan design dengan menggunakan software yang sama ternyata juga ikut andil membagikan serta menyeragamkan ‘bahasa’ estetika arsitektur masa kini. Secara sinis kemudian ada istilah arsitektur copy and paste.

Dalam situasi yang hampir tanpa informasi atas adanya jenis produksi arsitektur yang lain di Indonesia nan raya dan kaya budaya ini, perhelatan besar pemberian penghargaan arsitektur ini digelar.

Tentu kemudian pertanyaan besarnya adalah, demi apa penghargaan ini diberikan?

Dan kemudian diikuti oleh pertanyaan lain seperti mengapa hanya di dominasi Jakarta dan Bandung, apakah ini mewakili wajah keindonesiaan kita? Mengapa nominasi dari daerah sedemikian minim? Kemudian juga terngiang kata Oscar Niemeyer: “Architecture is not important; what is important is the life that we shape, influence and create by architectural means”. Bagaimana ‘mengukur’ pencapaian2 karya arsitektur itu? apa yang harus diukur? apakah tepat menilai rumah sederhana bersanding kompetisi dengan bangunan dengan budget besar, atau juga kecanggihan teknologi industri memang lebih mulia dari kesederhanaan tukang2 dipinggiran?

Pemikiran ini merupakan bahan perbincangan hangat diantara para juri di awal-awal pembahasan berkait dengan bagaimana menyelesaikan amanat dari organisasi ini.

Pada akhirnya kita kemudian menyadari bahwa memang selalu ada keterbatasan. Namun tidak juga berarti bahwa pemberian penghargaan ini menjadi sia-sia Paling tidak ada keinginan untuk menyapa dan mengungkapkan bahwa ternyata ada pencarian yang telah dilakukan lewat karya2 tersebut. Diyakini bahwa peran mediasi arsitek masih sangat diperlukan.

Kemudian tugas juri disadari bahwa lebih dari sekedar ‘memilih’ para juara yang patut dihargai, namun juga adalah ‘menemu kenali’ kualitas tersembunyi dalam karya2 itu. Tentulah ini tidak mudah,mengingat bahwa arsitektur haruslah dialami langsung,dan betapapun bagusnya foto tetaplah itu keadaan yang tereduksi. Namun beruntunglah ada juri2 yang secara cermat telah mengunjungi sebagian besar karya2 tersebut.

Sekalipun mungkin benar ini tidak menggambarkan keadaan Indonesia masa kini dengan utuh , namun setidaknya ada semangat untuk berharap atas terwujudnya keadaan yang lebih baik lewat munculnya karya2 yang semakin berbobot.

Penghargaan ini juga dimaksudkan untuk menganyam lagi nilai-nilai idealistik yang masih harus kita wujudkan bersama.

Keberadaan juri international diharapkan juga memberikan makna lebih bagi penerima penghargaan karya tahun ini. Dimensi nilai yang melampaui wilayah geografis diharapkan juga tercermin dalam karya-karya tersebut.

Penghargaan kali ini tidak semata mengikuti typology bangunan sebagai kategori. Melainkan lebih pada persoalan yang mengemuka dalam tarik menarik antara keterbatasan dan peluang, serta kemudian pencapaian akhir yang ditunjukkan lewat karya.

Pilihan criteria kemudian lebih di fokuskan pada interaksi yang dinamis dari stake holders demi munculnya karya yang dinilai memiliki kandungan lebih. Tentulah ini akan juga relatif. Ingin juga mengingatkan bahwa karya arsitektur adalah hasil kerja kolaboratif,sebagai upaya menganyam nilai2 kreativitas serta inovasi,serta kepedulian terhadap konteks sosial maupun budaya.

Arsitek memang sebagai figure yang relatif sentral namun bukan pemain tunggal, klien juga memiliki peran signifikan bagi munculnya karya arsitektur yang berbobot.

Hal ini juga ingin ditandai dalam pemberian penghargaan tahun ini.

Pada saat kehidupan sudah terfragmentasi sedemikian lanjut,maka yang tertinggal adalah serpihan-serpihan yang masing-masing seolah lepas, seolah semua bisa benar. Namun jika kemudian akhirnya karya arsitektur hanyalah menjadi karya yang self referential, sempurna pada dirinya sendiri maka pemberian penghargaan juga tidak bermakna.

Makna haruslah juga di rekatkan pada kehidupan bersama,pada membangun kepercayaan dan semangat bahwa ada sesuatu yang kita akui secara bersama sebagai suatu yang dianggap baik.

Semangat inilah yang hendaknya dihidupkan dan dilanjutkan.

Label: