12 September 2011

Menjabar-Simpulkan Arsitektur Muslim, Deduktif-Induktif

Galih W. Pangarsa


alam mempelajari “Arsitektur Muslim”, sebetulnya tak ada pertentangan antara universalitas dan lokalitas. Kita dapat saja memahami dari titik pandang “Muslim” ataupun dari titik pandang “Islam”. Bahkan idealnya, ada kesetimbangan dan keterpaduan dalam membacanya. Agar tak terombang-ambing dalam gelombang cara pikir dialektis, mau tak mau kita perlu memperluas pemahaman dan memperdalam pengertian terhadap fenomena sosial dan geografis dari arsitektur di negeri-negeri berpenduduk muslim dan sekaligus, fenomena esensial dari keberadaan terhadap Ka’bah, sebagai simbol dari orientasi ruang-waktu komunitas muslim mondial. Dengan memperluas dan memperdalam pemahaman-pengertian atasnya, manusia bagai memasuki lautan yang luas dan dalam bahkan memasuki pembacaan yang terpadu --intelektual-spiritual sekaligus. Manusia membaca dan berpengetahuan dengan cara aqliyah-ruhaniyah sekaligus (iqra’ bismi rabbik). Saya secara sangat sekilas memperkenalkan hal itu dalam buku “Merah-Putih Arsitektur Nusantara”.

...menunggu gambar...Kebanyakan manusia berangkat dari sisi intelektual. Berangkat dari yang kasat mata dahulu mempelajari apa yang “dibacanya”, kemudian mengambil keputusan pemahaman dengan intuisi, aktifitas spiritual atau ruhaninya. Proses memahami secara intelektual ini popular dengan proses induksi, yaitu proses penyimpulan. Mungkin sangat jarang disadari bahwa pada proses berpikir induktif itu, terjadilah secara berkesepasangan atau simultan, proses lain yang berlangsung secara ruhaniyah. Umum mengenalnya dengan proses deduktif. Apa contohnya?

Bisa jadi, contoh paling populer ialah kata-kata “Eureka!” dari Archimedes yang tiba-tiba “memahami rumus” menghitung volume benda tak beraturan; atau Newton yang mengamati fenomena fisika lain lewat jatuhnya buah apel, dan seterusnya. Pendek kata proses mengambil keputusan “yang ini”, dan bukan “yang itu”. Itu bukan masalah intelektual (saja). Akan tetapi juga masalah keyakinan. Di buku “Arsitektur untuk Kemanusiaan: Teropong Visual Cultre atas Karya-karya Eko Prawoto”, saya menulis: “[M]asih agak jarang yang menyadari bahwa tak hanya system of knowledge yang dipindahkan lewat pengajaran, dan bukan sekedar system of values yang dipindahkan dari pendidikan. Pengajaran dan pendidikan membawakan system of belief yang termuat di dalam pengetahuan dan nilai-nilainya. Ilmu akan terbentuk segaris demi segaris dari penerapan pengetahuan dan nilai-nilai pada aktifitas nyata; keduanya terkristalkan menjadi keyakinan”. PiC.LEECH.iT - FREE iMAGE HOSTiNG Umumnya manusia beringsut meningkat, dari ‘ilmul yaqin (didominasi potensi intelektual), meningkat menjadi haqqul yaqin (terpadu intelektual-spiritual).

Kembali ke pokok persoalan. Dengan penjelasan tambahan di atas, mudah-mudahan menjadi terang, bahwa banyak –bahkan sebahagian besar-- manusia belum berhasil memahami inti-dasar fenomena yang kasat mata di tiap lokalitas. Wajar saja hal itu terjadi, karena memang untuk dapat “membacanya dengan benar”, bukanlah persoalan yang sederhana. Meskipun demikian, dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut tampak sering dialami masing-misang dari kita. Sholat misalnya, apakah itu berarti menyembah dan mensujudi Ka’bah? Mencium Hajar Aswad di Ka’bah, apakah itu berarti para jama'ah haji memuja batu? Tentu tidak. Ada universalitas di balik tiap fenomena kasat mata pada semua lokalitas (ruang-waktu) yang hanya dapat dimengerti dengan kehalusan perasaan yang terpadu menjadi satu keasatuan dengan ketajaman akal. Itulah yang nyaris hilang dari ummat manusia zaman ini.

Keterpaduan itulah yang saya maksudkan sebagai satu kesatuan proses deduktif-induktif di atas. Dalam kenyataan keduanya berlangsung di “bawah sadar”. Mengapa dikatakan demikian? Umumnya manusia, mempunyai kesadaran empirik saja; ciri khasnya, hanya mengandalkan apa yang dilihat secara kasat mata. Sedangkan masing-masing proses ataupun keterpaduan antara keduanya --deduktif maupun induktif-- berlangsung di ranah meta-empirik. Dalam proses yang terpadu itu, alat baca spiritual bekerja secara terpadu dengan alat baca intelektual. Begitulah nature atau fithrah manusia.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Mohon tinggalkan akun valid. Terimakasih kunjungan Anda

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda