24 April 2010

Arsitektur di Negeri Bencana

Galih W. Pangarsa



rsitektur Nusantara tinggal remah-remah, bahkan nyaris punah. Sementara itu, kita perlu sadar sepenuhnya, betapa pen-tingnya identitas pribadi, baik bagi individu maupun bangsa, karena sudah menjadi kodrat manusia ia berperan sebagai subjek yang di-mintai pertanggung-jawaban.

Benarkah bahwa kaum arsitek lepas dari pertanggung-jawabannya selaku bagian dari anak negeri yang tengah dikepung bencana ini? Jika tidak benar, lalu apa yang bermanfaat untuk disumbangkan mereka pada negeri ini? Apakah andil itu diwujudkan dengan terus hanya mengejar prestasi dan prestise diri di pentas panggung seminar atau sayembara desain dengan segala kehebatan gelar dan penghargaan?

Mengkaji Arsitektur Nusantara bukan untuk kembali ke masa lalu. Di tengah-tengah dua persoalan mendasar di atas --hancurnya identitas manusia dan masyarakat serta rusaknya alam lingkungan Nusantara-- pengembangan ilmu arsitektur di negeri ini mesti menanggapinya dengan berupaya menempatkan arsitektur di titik perimbangan yang adil-bijak: tak hanya berpihak pada manusia. Tetapi juga pada kelestarian alam. Rekontekstualisasi Arsitektur Nusantara di negeri subur-makmur yang kini beralih menjadi negeri bencana ini adalah untuk mendudukkan kembali Arsitektur Nusantara sebagai peradaban arsitektur lokal, nasional, regional dan sekaligus mondial. Itu akan tercapai bila nilai universalitas arsitektur negeri ini ditemu-kenali kembali, lalu ditumbuh-kembangkan sebagai rerumpunan kebudayaan yang tetap majemuk, yang terjagai oleh perangai dan sifat kasih-sayang masyarakatnya.

Maka, rekontekstualisasi itu mau tak mau harus diposisikan sebagai bagian dari upaya kebudayaan yang lebih besar, yang berskala negeri dan kebangsaan. Untuk itu, Indo-nesia yang kini ada dalam kungkungan jeruji bencana sosial, ekonomi, budaya, dan alam ini, memerlukan kepemimpinan bangsa yang kuat: mampu mengembalikan manusia dan alam Nusantara pada fitrahnya.

Label:

20 Komentar:

Anonymous Anonim mengatakan...

Kebanyakan solusi yang dipilih untuk penanggulangan bencana adalah pemilihan konstruksi dan material yang tahan api dan segala macamnya.
Tetapi masi melupakan dari mana bencana itu berasal, dari diskusi saya dengan seorang Ibu, beliau berkata 'pangkalnya ya dari kelakuan kita. Lha wong Gusti Allah itu baik, masa mau nyia-nyiain umat nya kalo umatnya ndak ndablek' singkatnya seperti itu.
Lalu peran arsitek ?
Seperti yang banyak dituliskan oleh Sujiwo Tejo tentang penindasan dan kemelaratan, menurut saya membangun-merancang kenyamanan untuk mereka, sudah cukup tidak nyaman hidup kami yang tertindas. Mengumpulkan keapa-adaan yang ada lalu membangun untuk kaum kami.
Bukan lantas tidak belajar banyak hal lain, tapi tidak mudah juga memahami sesama, kebudayaan, material lokal dan pola pikir yg cenderung 'melu-melu'.

sehingga arsitek tidak selalu memamerkan dan membusungkan dada atas karyanya.
*amin

Ikarahmawati - 0710650015

27/4/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

Bencana yang menimpa negara ini memang tidak lepas dari ulah rakyat negeri ini (termasuk saya tentunya). Lalu apa bentuk tanggung jawab kita sebagai arsitek? mungkin kita bisa meneladani seorang Y.B. Mangunwijaya. Arsitek Mangunwijaya atau akrab disapa Romo Mangun adalah arsitek yang menerapkan nilai-nilai "kesejahteran" pada manusia selaku pembuat bangunannya. Beliau juga seorang budayawan yang sangat peduli dengan masyarakat kecil, terlihat dari perkataan beliau ketika merancang pemukiman Kali Code "investasi adalah pada tukangnya bukan kepada bangunannya". Mungkin bila kita menafsirkan pernyataan beliau bahwa sebuah bangunan itu adalah satu kesatuan antara bangunan itu sendiri, bangunan dengan arsitek, dan bangunan dengan tukangnya. Sehingga orang tidak hanya mengingat akan keberadaan suatu banggunan saja melainkan seluruh pihak-pihak yang terlibat dalam pembentukan bangunan tersebut (diambil dari www.vhrmedia.com). Pemukiman Kali Code yang terletak di Yogyakarta merupakan karya dari Romo Mangun yang dibangun bersama warga setempat, yang mana bahan material sebagian besar merupakan bahan-bahan bekas hasil dari sumbangan warga yang disulap menjadi sesuatu karya arsitektur yang bercitarasa kemasyarakatan dan kesejahteraan yang sangat tinggi. Dari seorang Mangunwijaya kita belajar, sejauh apakah pentingnya sebuah bentuk pada suatu bangunan?. Apakah kita akan selalu menganggap bahwa karya arsitektur yang baik adalah yang bisa menyihir setiap orang melalui estetik bentuk dan teknologi yang digunakannya?(seperti arsitek2 posmo). Ataukah mungkin sebuah karya arsitektur yang baik adalah jika mampu memberikan nilai seni keindahan pada penampilan bangunanya dan mampu menjadi pengayom akan kelestarian lingkungannya?

Luqman Reza-0810650056

27/4/10  
Blogger GWP mengatakan...

Rekan2 di MK Arnus Brawijya,
Asswrwb.,
Yg diharapkan dari mhsiswa ialah tulisan yg :

* merupakan pertanyaan kritis atas isi kandungan sajian dlm weblog (jika dijawab, menyebabkan sajian weblog tsb bertambah luas dan/atau dalam telaahannya)

* bersifat mengembangkan; ide yang telah tersajikan/tertulis dilengkapi contoh2 kasus, misalnya dampak hilangnya suatu jenis pohon yg diperlukan oleh arsitektur setempat, hilangnya ketrampilan teknlogi konstrksi utk membangun suatu bangunan, dst.... grs besarnya, jangkauan penelaahan tulisan diperluas. Contoh ada yg membuat pernyataan menarik "Pohon bukanlah benda mati...". Apkah ada contoh2 pandangan dlm tradisi Nusantara yg menunjukkan hal ini?

* lebih sulit sedikit, bersifat menumbuhkan; ide yang sudah disajikan diterapkan pada bidang atau sudut padang yang belum disajikan, misalnya tentang ekologi dari bahan bangunan trad., etnologi/tinjauan kaitan adat-istiadat dengan pelestarian bahan bangnan, dst. grs besarnya, jangkauan telaahan tulisan diperdalam dan disimpulkan dalam suatu kesatuan. Tentang pemikran Sujiwo sebagai contoh lain. Apa ada dalam khazanah tradisi Nusantara yg senada?

Kami tunggu partisipasi anda untuk andil perbaikan negeri ini

Galih W. Pangarsa
arnusftub@gmail.com

27/4/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

mohon ijin bertanya pak,

arsitektur nusantara pada umumnya memang menggunakan material alam terutama kayu sebagai bahan utamanya (biasanya dikaitkan dengan identitas arsitektur tropis). dilihat dari maraknya pencurian/penggundulan hutan, pemanasan global, dsb, yang berpengaruh kepada suplai bahan bangunan alami, berarti kita pun harus memperbaiki suplai dari bahan2 bangunan alam tersebut. dengan demikian penumbuhan kembali arsitektur nusantara dapat lebih dimaksimalkan. apakah begitu pak?
itupun apabila memang arsitektur nusantara diasumsikan masih berhubungan erat dengan bahan bangunan yang sama.
tetapi bagaimana bila kita benar2 menggabungkan nilai-nilai universal tersebut dengan bahan bangunan dan teknologi modern? apakah hal ini akan berpengaruh kepada kualitas nilai dan makna tersebut? atau malah akan membuatnya menjadi rancu? mohon penjelasannya pak, terimakasih sebelumnya.

29/4/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

Lebih baik bila lain kali Anda tidak lupa mencantumkan nama.

Menjawab "berarti kita pun harus memperbaiki suplai dari bahan2 bangunan alam tersebut?", tidak mudah.

[1] Harus ada perubahan besar dari politik dalam negeri Indonesia yang sekarang hanya dan hanya "politik-ekonomi/kesejahteraan", menjadi "politik kemakmuran". Makmur tidak menomorsatukan hasil, tetapi keadilannya dulu. TERMASUK ADIL TERHADAP ALAM. Makanya dalam Panca Sila disebut ADIL-MAKMUR. Sayang di masa lalu Panca Sila dijadikan kendaraaan politik Orde Baru untuk mempertahankan status quo kekuasaannya, sehingga sekarang masyarakat sudah "bosan dan jenuh, bahkan mak dengan Panca Sila; padahal esensi muatan/kandungannya sangat tepat untuk menyelenggarakan pemerintahan di Indonesia. Bukan Panca Silanya yang salah, tetapi manusia yang menjalankannya yang kurang berkualitas!). Berarti,

[2] Perlu perbaikan ilmu besar2an. Ilmu (semuanya, bukan hanya arsitektur) perlu diperbaiki sehingga berwatak filosofi (ontologis dan epistemologis) ADIL (memihak pemanfaatan alam oleh manusia, tetapi sekaligus proposional melindungi alam agar tidak tereksploitasi habis2an oleh manusia). Yang diperlukan terutama adalah dimensi ETIKA-nya. Untuk arsitektur: sudah sangat bagus kalau paradigmanya bergeser dari melihat arsitektur sebagai SINGLE BUILDING, menjadi arsitektur sebagai bagian dari LINGKUNGAN BINAAN.

[3] Perlu rekontekstualisasi penggunaan bahan (karena hutan kita sudah rusak total) dan untuk itu, penelitian material subsisten sangat penting (misalnya bambu sebagai "KAYU MASA DEPAN" yang waktu panennya yang hanya 4-5 tahun adfalah sangat singkat dibandingkan dengan tanaman jenis kayu yang membutukan paling tidak 20 tahun). Sayang, bidang yang sangat strategis ini kurang mendapat perhatian lembaga2 pemegang anggaran penelitian pemerintah yang sekarang masih sangat berorientasi industri. Untung masih ada lembaga penelitian pemerintah (BPPTPT Denpasar)yg membidani lahirnya teknologi BAMBU LAMINATED (bilah-bilah bambu yang direkat satu sama lain dan dicetak sihingga menghasilkan balok2) yang prospeknya cukup bagus, karena teknologi ini bisa diupayakan oleh rakyat di seluruh daerah permukiman di Indonesia. Mengapa? Bambu bisa tumbuh sangat luwes di Nusantara. Rakyat bisa memperoleh bahan bangunan lagi dengan murah, tanpa harus menunggu reboisasi hutan2 kita selesai. Yang harus dijaga ialah jangan sampai teknologi itu dikuasai pemodal besar/kapitalis lagi. Nanti rakyat akan terus menderita. Sementara ini, dari hasil penelitian mereka yang saya lihat, saya mudah-mudahan tidak salah menyimpulkan bahwa BPTPT tinggal memasuki tahap untuk mensosialisasikan ke masyarakat dan mengupayakan agar taknologi itu dapat dijangkau/dikuasai rakyat dengan MURAH dan MUDAH.

[4} Soal makna. Di sini diperlukan pemimpin nasional (bkan satu pribadi tetapi jajaran kepemimpinan) yang MAMPU MENTRANSFORMASI NILAI-NILAI. Arstinya, para pemimpin kita mesti bervisi budaya (atau dalam bahasa Cliford Geertz, berpolitik-makna), memimpin arah pertumbuh-kembangan mentalitas rakyat-bangsanya. Bukan mereka yang hanya mau memperkaya diri!

Bila saudara mahasiswa peserta MK ARNUS FTUB, silakan ajukan pertanyaan (dan diskusi lanjutnya) di dalam kelas.

Teimakasih

Galih W. Pangarsa

3/5/10  
Anonymous carissa FP mengatakan...

Untuk sebuah kota, kedudukan pohon selama ini oleh orang-orang awam(orang-orang di sekitar saya, termasuk juga saya sendiri) dianggap cenderung mengarah kepada fungsi ekologis, sehingga keberadaan ruang terbuka hijau bagi kami ya adalah untuk menjaga stabilitas tanah dari suatu kawasan. Selain RTH, kami menganggap fungsi kedua dari keberaaan pohon adalah untuk estetika dan pembawa kenyamanan secara psikologis untuk orang-orang di bawahnya.
Tapi, ternyata keberadaan pohon untuk sebuah kota lebih dari dua fungsi tersebut. Keberadaan pohon dapat menjadi elemen dari kontinuitas ruang luar yang terjadi di dalam suatu kawasan. Disebutkan oleh Markus Zahnd dalam buku "Perancangan Kota Secara Terpadu", keberadaan suatu bangunan dalam suatu kota akan membawa efek perubahan pada ruang luar yang terjadi dalam kota itu sendiri. Karenanya, harus ada sebuah keberlanjutan ruang agar suatu kota lebih "imageable dan legitible". Keberlanjutan itu dapat diwujudkan dengan keberadaan pepohonan, yang sekaligus menjadi elemen linier yang mempersatukan bangunan yang satu dengan bangunan lainnya di dalam suatu kota. Karena,sebagian besar bangunan di masa depan memiliki potensi untuk menjadi "landmark" dan memiliki efek visual yang menonjol. Karenanya, perlu adanya suatu penataan massa, dan juga ruang luranya, sehingga dapat menautkan bangunan itu dengan bangunan yang sudah ada sebelumnya. Bahkan dalam buku tersebut, ditekankan berkali-kali bahwa dalam setiap aspek perancangan untuk perkotaan, harus ada perencanaan khusus untuk ruang luarnya(termasuk pepohonan).
Dari sini, dapat saya pahami mengapa untuk menanggapi pertumbuhan masyarakat 30 tahun ke depan, disiplin ilmu urban design dan landscape sangat diperlukan. Karena, urbanisasi masyarakat menuju kota memang akan terus berkembang pesat dan tak terhindarkan. Mohon maaf kalau masih dangkal, saya memang masih butuh banyak belajar.

3/5/10  
Blogger GWP mengatakan...

Ya. Maka dari itu, http://arsiteknusantarawacana.blogspot.com/ (masuk dari tombol "WACANA"), adalah wacana tentang [1] identitas kebudayaan dan [2] lingkungan hijau. Atau, lebih baik lagi (jika weblog itu bisa berkembang menjadi wahana diskusi), tentang [3] perluasan epistemologi ilmu arsitektur ke arah urbanisme dan rancangan urban, yang cukup memberikan harapan. Arsitektur yang tumbuh di negeri ini dapat ikut andil memecahkan berbagai permasalahan.

Menurut saya yang masih belum bisa dipahami dengan terang dan jelas ialah keterkaitan antara manusia dengan pohon dari SUDUT PANDANG ENERGI. Kajian ini memerlukan kedalaman latar belakang ilmu fisika kwantum (energi) yang diterapkan pada ekologi kota. Kita belum mampu. Tapi kalau mau belajar menghargai tradisi Nusantara yang sudah berumur ribuan tahun, akan sangat mudah menerapkan satu kesatuan sistem pendaya-manfaatan ruang kota yang adail bagi manusia dan alam, yang proporsional, baik untuk kemanfaatan manusia (permukiman) maupun kelestarian alam (salah satunya penjagaan ruang hijau dan pohon2 tua). Imageable atau legitible saja tidak akan pernah cukup menjelaskan. Keberlanjutan yang diperlukan bukan saja soal ruang, tapi juga kesinambungan antargenerasi dan sekali lagi, soal ENERGI.

Banyak megacities berukuran 20 juta penduduk lebih yang bakal muncul. Bagaimana ilmu arsitektur mesti menanggapinya? Masihkah kita memposisikan arsitektur sebagai kajian materialisme tentang bangunan tunggal? Jika tidak lalu yang bagaimana yang lebih baik dalam kondisi penyelenggaraan pengajaran desain di kampus anda? Anda sebetulnya dapat mengembangkan fokus/problematik pemikiran ini (lebih mudah dan dapat saudara sikapi dalam aktifitas sehari-hari!).

3/5/10  
Blogger GWP mengatakan...

Marda, asswrwb.,
(emailmu tidak bisa terima balasan saya, jadi saya numpang di sini untuk menjawab; mudah2an sampai ke Marda)
1. Tolong berikan sumber dari tulisan itu.
2. "...Raden patah atau yang dikenal sebagai Sunan Giri,". Raden Patah berbeda dengan Sunan Giri, Raden Patah adalah pendiri Kesultanan Demak. Sunan Giri I, dipercaya legenda lokal sbg Raden Paku, berasal dari Bantuwangi.
3. Tulisan Marda terlalu berat ke sejarah. Kalo mau lanjut, fokuskan pada teknik konstruksi bata, makna motif hias Sri Tanjung, atau tipologi gerbang paduraksa, jangan dicampur2 dulu.

Galih W. Pangarsa

4/5/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

assallamuallaikum pak,
(semoga bapak masih ingat saya.hehe.yang sempat dapet sebutan 'ndableg' dari bapak..hehehe)
sudah lama saya tidak membaca tulisan bapak lagi setelah lulus kuliah,jadi sedikit terobati waktu baca tulisan ini pak..
seperti biasa,harus mengulang beberapa kali membaca supaya bisa memahami tulisan bapak.jadi saya belum bisa memberikan tanggapan..hehe.

sukses terus pakk..


best regards,
Lely Mareta 0410650050

19/5/10  
Blogger GWP mengatakan...

Wa'alaikum salam wr wb., kalo begitu, saya harus menjelaskan tentang ndableg. Ndableg dengan konotasi positif adalah "tahan uji, tahan bantingan, pantang menyerah" menghadapi berbagai rintangan. Hidup mudah ialah hidup dengan ke-ndableg-an seperti di atas, untuk memecahkan masalah, punya daya juang tinggi, sehingga seluruh masalah pada akhirnya takluk terhadapnya. Hidup mudah bukan berarti hidup tanpa masalah. Mudah2an kamu termasuk ndableg jenis ini, bukan ndableg dg konotasi negatif. Yaitu, ndableg cuek bebek tanpa kepedulian thd kesulitan hidup orang lain. Tks dorongan semangatnya. Sukses juga untuk Lely.

21/5/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

siapa menyalahkan siapa?
saat ini bukan lagi saatnya kita mencari kambing abu-abu.kehancuran bumi ini secara perlahan setidaknya menjadi alarm bagi kita agar jangan sampai kesiangan bangun.namun tatkala bangun, bingung...mau berbuat apa?

kurang apa lagi?
segala doktrin dalam menerapkan bentuk lingkungan yang serasi dan selaras dengan alam kiranya sudah sedemikian banyak tersaji di depan kita..paling-paling menggugam 'ah,teori'.. hemat saya, manusia tralu jenuh dengan itu sehingga saat ini kita berlaku Apriori terhadap dalil-dalil (meskipun kebenarannya telah pasti karena datang dari Sang Pencipta), Apatis terhadap manusia di sekitar kita (meskipun hanya terpisah oleh sekat dinding, cukup dengan hp, fesbug terasa cukuplah kita berkehidupan di dunia ini), pada akhirnya Antipati terhadap lingkungan sekitar (buat apa lagi tanah kosong dengan hamparan bunga, pohon jika tidak secara riil memberikan kita keuntungan materil)???

apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini?

yo mboh...(dikutip dari Prijotomo)

yusfan, dulu 0110650067

29/5/10  
Blogger GWP mengatakan...

Betul. Kondisi terparah manusia ialah [1] TULI terhadap kebenaran yang disuarakan oleh jasad atau alam dengan jujur (jasadnya sakit, lingkungannya terkepung pusaran bencana), [2] BISU tak berani menyuarakan KEBENARAN HAKIKI karena takut kehilangan penghidupan, [3] BUTA; meski telah menyuarakan kebenaran itu, tapi tak dapat mengambil pelajaran darinya --artinya, ia belum dapat melihat arah hidupnya dengan TERANG (sampai detil) dan JELAS (paham keterkaitan masing-masing unsur dalam arah tujan tersebut).

Jika sudah TIDAK tuli, bisu, dan buta, baru ia dapat menjawab pertanyaan mas Yusfan: mau kemana sebetulnya tujan hidup manusia? Kayaknya, itu bukan pertanyaan yang biasa dijawab oleh arsitek, ya? Menurut pengamatan saya, biasanya sih dijawab oleh seorang manusia yang telah cukup dewasa ruhaninya (antara lain, berciri sudah merdeka dari atribut-atribut formalnya, dst yang prinsipnya, tidak lagi egois-individualistik, termasuk mencari ketenaran pribadinya, lewat berbagai panggung: gelar-pangkat-jabatan, seminar, lomba, kekuasaan [minimal tanda-tanganya diakui oleh suatu prosedur administratif...], juga harta. Kalo semuanya tidak, ...minimal, lewat perlombaan pengikut di fesbuk gitu loh, hehehe).

Salam,

30/5/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

konon, menurut f. budi hardiman, tumpukan masalah tersebut membuat 'orang jaman sekarang' menerapkan mekanisme perlindungan pada diri mereka. kita bisa menebalkan kulit kita, menulikan telinga kita, membutakan penglihatan kita pada hal-hal yang tidak menyenangkan dan sulit dibereskan. limpahan informasi dan masalah perkotaan yang begitu berlimpah membuat kita menjadi sangat selektif menerima apa yang masuk dan diolah. celakanya, pengalaman kita di dunia praktik tidak berbeda banyak dari (misalnya) pengalaman kita menyetir kendaraan di jalan raya. kita berhadapan dengan ketidakberesan yang tidak kelihatan ujung pangkalnya: kemacetan, ugal-ugalan, pungli, lubang galian, jebakan aparat, rambu rusak, kapak merah, pengemis, pengamen, dsb. kita tidak dapat berbuat banyak dari balik kemudi untuk turut serta membereskan masalah-masalah tersebut. satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menjadi defensif, menutup jendela rapat, menyalakan ACe, menggelapkan kaca film, menyalakan audio player, menelepon teman, memaki-maki di fesbug, atau berbelok ke mal terdekat untuk minum kopi mahal.

meresapi cerita Pak GWP di atas mengingatkan saya akan komedi 3 Mas Ketir,salah satu acara di stasiun TV swasta. saya tertawa terbahak-bahak saat menonton,selain lucu, juga membuat saya berkaca. di cerita aslinya, Les Trois Mousquetaires merupakan kisah kepahlawanan di negeri anggur...di-Indonesia-kan, dan sepertinya cocok menggambarkan kondisi Indonesia kita tercinta..
untungnya sinetron...hehehe

masih Yusfan yang ber-kotek

30/5/10  
Blogger GWP mengatakan...

Paling tidak, juga ada 3 (tiga) tipologi reaksi terhadap kerusakan mentalitas manusia dan alam di Indonesia (lihat komen saya sebelum ini: "tuli, bisu, dan buta"):

[1] BERLANJUT HIDUP INDIVIDUALISTIK (defensif, menurut istilah Yusfan) dengan kerusakan parah pada perasaan kemanusiaannya (termasuk kepekaannya terhadap derita lingkungan); paling top dia meluangkan sedikit waktu "mendengar" informasi ttg perbaikan, tetapi KESOMBONGAN dirinya tetap tak berkurang, penyebabnya sudah terbiasa menilai dirinya BENAR dan BAIK. Tentu saja arsitekturnya adalah arsitektur SINGLE BUILDING!

[2] HANYA MENGUMPAT-UMPAT segala ketidak-beresan di lingkungannya (juga ada kecenderungan mencari cacat, kekurangan, dan cela pemerintah), tapi dirinya sendiri MASIH ENGGAN BERKORBAN untuk memulai/mempelopori perbaikan, apalagi yang punya konsekuensi kehilangan penghidupan, popularitas, dan lain-lain yang menguntungkan dirinya. Penyebab sikap ini karena ybs BELUM PUNYA IDEALISME arah tujuan hidup yang terang dan jelas. Idealisme baginya: IDE-nya hanya sampai ALIS; alisnya berkerut-kerut karena sering mencaci-maki segala sesuatu yang tidak beres, yang ia sendiri belum tahu apalagi yakin bagaimana melakukan perbaikannya.

[3] TIDAK KONSISTEN. Si manusia mulai mengadakan perbaikan (ada tiga ranah perbaikan: filosofi, konsep, dan praksis/terapan filosofi dan konsep tersebut), tetapi belum dapat mengambil pelajaran dari langkahnya (mengapa ia gagal dan mengapa satu saat yang lain ia berhasil). Cirinya masih dihantui marah dan putus asa bila gagal, serta bangga-MENEPUK-DADA dan TAKABUR bila berhasil. Penyebabnya: perbuatannya belum BEBAS DARI PAMRIH pribadi/kelompok (masih mengharap perhatian, pengakuan-penghargaan, ucapan terimakasih, pujian, atau pumujaan terhadap drinya masih ingin menjadi idola komunitasnya, dan dengki apabila ada orang lain yang dipuji, dan bahkan masih terbebani keiinginan untuk memperoleh imbal-balas materi).

Semoga bermanfaat,

GWP

3/6/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

ada satu hal yang menarik menurut saya ketika membicarakan arsitektur nusantara, yaitu betapa arsitektur pada suatu masa, pernah menjadi bagian yang mesra dari kehidupan manusia, membicarakan arsitektur itu seperti halnya membicarakan singkong, seperti membicarakan nasi, seperti halnya manusia membicarakan tubuhnya sendiri, benar-benar mesra. itu pada suatu masa.

hingga kemudian datang suatu masa dimana segelintir manusia yang menamakan dirinya arsitek, merampas sesuatu yang sudah mendarah daging dalam kehidupan manusia. mengeksklusifkan arsitektur dan menggantungkannya setinggi langit. arsitektur benar-benar tercabut dari habitatnya hingga ke akar-akarnya. arsitektur bagi masyarakat seolah-olah menjadi benda baru, alien arsitektur.

dan mulai dari masa ini, sudah sepantasnya manusia-manusia yang mengaku arsitek untuk meminta maaf dan berkewajiban sepenuhnya untuk mengembalikan lagi sesuatu yang pernah dicuri itu kepada masyarakat, karena memang itu hak mereka. dan saya rasa pengakuan, pujian, pemujaan bahkan pengkultusan yang didapatkan dari sesuatu hal yang bukan hak merupakan sesuatu hal yang memuakkan.

terima kasih...maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan...

m.h. juna putra

27/9/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

Betul, saya setuju. Arsitek negeri ini telah terkerangkeng dalam penjara yang jerujinya mereka bikin sendiri dengan susah payah. Itu pun masih harus mencontoh tauladan jeruji penjara pola pikir eurocentrism, dengan modal hutang (jelasnya: berapa banyak yang harus dibayar rakyat yang telah tercerabut budayanya, untuk mengganti-bayar beaya mensekolahkan para dosen-arsitektur di luar negeri, hasil prestasi mengemis hutang ke LN?).

Sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, bangsa ini tak lagi punya pemimpin yang bisa mengarahkan perjalanan hidup budaya (mentalitas) rakyat. Sejak saat itu, para pemimpin negeri ini su-ka-harta saja. Lebih buruk lagi dari sekedar materialistik, mereka mendidik masyarakat bangsa ini untuk menjadi sangat individualistik.

Tetapi yakinlah, keadaan itu masih dpat diperbaiki (dengan kerja sangat keras dan penuh perjuangan).

Salam,
Galih W. Pangarsa

29/9/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

assalamualaikum..
pembaca diskusi diatas membuat saya kembali kehabitat yg selama ini rindukan.

salam hormat
Lutfi Saleh

1/11/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

AssalamuAlaikum,

langsung kepada uneg2, agak melenceng dari topik diskusi. kasus nyata yang terjadi di mayoritas kota dan desa di negari ini.

kalau kita jalan-jalan lalu terlihat sawah yang menghijau lengkap dengan "petani" yang bekerja di dalamnya,di suatu kota atau desa(banyak tjd di Surabaya, Bali dan Malang)....jangan buru2 berfikir bahwa pemandangan tsb adalah satu sisi lain keindahan.

sebab sebagian besar sawah itu bukan lagi milik para petani, tapi sudah "dikuasai" pemodal(asing ataupun lokal), dengan sederet rencana di belakangnya...villa lah, hotel lah, perumahan lah..dll. yang hampir 100% tidak mau tahu dengan yang namany budaya, lokalitas dll(karena memang landasan pijakannya adalah bisnis keuntungan).

bisa diprediksikan, 5 s/d 10 tahun ke depan, akan semakin banyak tanah subur yang berganti tanaman beton, besi dll...

Tidak ada lagi petani (karena tdk punya sawah), yang ada hanyalah buruh tani...yang lambat laun juga akan berubah menjadi buruh "ngepel lantai, tukang cuci kaca dll)

sebelum bicara lanjut tentang desain arsitektur yang harus begini dan begitu,...untuk kita sadari, bahwa di sanalah...di lahan hasil "gusuran" kaum lemah itulah, kaum arsitek akan mendirikan "karyanya".

inilah, yang sejujurnya menjadi poin kegetiran saya terhadap masa depan negeri ini. dari mana dan mau ke mana memulai perubahan itu..?

mohon pencerahan, pak..
Saiful..0210650055

1/11/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

Wa'alaikum salam wr wb.,
Mohon muaaaaf ga sempat buka-buka blog ini, jadi sangat lambat menjawab, sekali lagi mohon maaf. Kalo mau perbaikan ya dari ilmu. Seribu kali wujud lahiriyah dibenahi, kalo cara berpikir/ilmunya masih sama, pasti kesalahannya kembali berulang. Kedua, harus makin disadari oleh para petinggi keilmuan/pendidikan arsitektur di negeri ini, bahwa arsitektur tak dapat berdiri sendiri. Jadi? Perbaikannya harus mendasar-menyeluruh-terpadu dalam satu langkah budaya (politik kebudayaan). Sementara begitu dulu, lain kali sy jawab tuntas di kelas. GWP

15/11/10  
Anonymous Anonim mengatakan...

Seskali corat coret arsitektur membangun bumi nusantara yang beradab berdasarkan nilai2 budaya bgs Ind.

sukolaras

11/6/11  

Poskan Komentar

Mohon tinggalkan akun valid. Terimakasih kunjungan Anda

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda