2 Maret 2009

Hospitality of the Nature and the People

(cited partially from: Pangarsa, 2007, Towards Nusantara City, Seminar on Knowledge City, USU, November 2007)

bserving its moderate climate, thriving and prosperous lands with abundant resources, it would be not too exorbitant to say that initially -as a host for peoples living in its environment- the nature of Nusantara is a space with extraordinary hospitality. The nature of Nusantara contributes special characters to its people, which is well known as “friendly to visitors, having perceptive way of thinking”, etc.
At a glance, it looks like a “given” character of the people. But people could not present real hospitality without a grateful attitude to whom or to which he believe and considered as the “Supreme Substance”, giving prosperity and saving his life. Having its own system of beliefs, each social group manifests its attitude in traditions that exist in diversity. But it seems that a common view and attitude is conserving nature. Hence, the hospitality of natural environment around them is reciprocated by the same attitude; people cultivate or take advantage of, but not to force the nature to fulfilling their greed.

Universality in Symbolism of Geography

Being “open” in both natural and societal point of views, Southeast Asian or especially Nusantara played a role as a “bridge” and “glue” between India and Arab to China. During the parallel periods of the spreading of Hinduism and Buddhism, cultural and political ruling powers had planted many religion-based spatial conceptions, blended through the processes of acculturations with local religions or system of beliefs. It could be noted that Balinese villages is centralized to Mount Agung in Bali. Mount Semeru, the mounts Dieng, Arjuna, Penanggungan, etc., in Java had also been considered as central of transcendental or spiritual space. The spatial conception is not only locally; Indonesian Hindus still regard the Ganges in India as Holy River. The site and the Temple of Vihara Agung (The Great Vihara) in Trowulan, East Java was selected and established in 1980s due to divine inspiration of Thai Buddhist priests. The regionalism of spatial orientation was also proved by studies on the Chinese diaspora: the mother-land of continental China is a spatial orientation for Chinese descendants abroad.

Although coming lately, an important phenomenon is Islam, which brought about Nusantara a new global orientation. Each prayer and mosques of Islam have spatial orientation to the Kaaba, believed as the “sacred point” in the earth. A study by Gani (2004: 28, 58) showed that among hundreds of countries in relation to the Kaaba, Nusantara has a peculiar position. The region is exactly oriented to the two vertical important elements: The Multazam and the Door of Kaaba. The Multazam is the wall between Hijr Aswad (the sacred stone mounted on the Southeastern corner of the Kaaba) and The Door, which is believed by Muslims as best a place to pray. In brief, Nusantara would be a planar projection of Kaaba central point through the two vertical elements explained above. Explanation should be sought to prove the matter. Nonetheless, it seems that the phenomenon could answer clearly cultural territory of Nusantara and explain Aceh is called “Serambi (Veranda of) Mekkah” and among first islamized Nusantara countries.

What is the lesson derived from the Kaaba? Like the meaning of the Kaaba symbolism itself -determined in the earth as the first dwelling for the first human being Adam- each dwelling would be able to sustain his life and other creatures. Consequently, as the Kaaba that becomes (symbolically) “a place to stop” for all of human beings, each dwelling of Adam’s descendants has a universality. In dynamics and heterogenic world, what is useful value of the Kaaba? It is not too hard to accept that a dwelling, village, city or built environment should not destroy its environment. In other word, the value of harmony or togetherness both in terms of human society and “society” of the nature is a priority in achieving sustainable life for all. Every empiric environment has interrelation with its meta-empiric reality. Every place of built environment in Nusantara would have its spirituality. That is a view as a basis that empiric and meta-empiric balance should be maintained properly both for human and nature. Nusantara is a unity of heterogeneity. Thus, a common or universal platform is required to achieve a living in harmony between the creatures of Allah, Almighty God.

Resource and Market of the North?

The long history of human civilizations since 14th century has been a history of suppression of human being, its nature, and both. After a long colonial period, European and American over-rationalized economic-based development has became a single paradigm and truth of a new capitalistic religion -in which emerges the worldly spirit of “gaining quickly, multiplying outcomes in the shortest time possible and in a most efficient way”. Based on this spirit, science in very exclusive disciplines which sides only to human greed spring. The victim are nature and underprivileged people. Would they be sacrificed in the names of “development of human civilization”, “colonial” or “post-colonial”? This is proper time to leave the Darwinian view of “struggle of life” behind, even though it is late to take such action. Peaceful scientific implementations in the other hand needs no victims at all.

For many centuries, Southeast Asia regions including Nusantara became subjugated territory of the Northern countries (Western Europeans and Northern Americans). Executed in politico-military or physical methods, the first period --say before Second World War-- exploited explored natural resources: minerals, agricultural products, etc. The later period --especially in last four decades-- is the pretense of scientific methods. Undoubtedly, the aim of the second period has been to create markets for advanced technologies of the North, such as in genetics, informatics, robotics, nano-techs, etc. By spreading scientific information, values of truth, good, or beauty is “patterned”. A mislead in interpreting the slogans as “Information-Age”, “Globalization”, “Internationalization”, “Cosmopolitanism” and other names, would trap into the invisible loop hole, that is a scientific-politic-economical dependence to the Northern countries. The tall stacks of debts of Indonesia are undeniable reality. The winners of the game of power are the Northern countries. The disciplines of architecture and planning play a very little part of this big game. A symbolism is required in politics of culture, not only as a simple way to built mental attitude but also to create an applicable proper (read: peaceful) scientific perspective.


2 Komentar:

Anonymous Anonim mengatakan...

Kami dari kelas Arsitektur nusantara kelas c mencoba menjawab pertanyaan yang diberikan bapak mengenai mengapa perlu rekontekstualiasasi arsitektur nusantara. Sebenarnya dari ke tiga postingan yang ada pada blog ini mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain. Pada postingan pertama yang berjudul “Arsitektur Rakyat di Nusantara” berisi tentang pengertian mengenai arsitektur nusantara itu seperti apa, seberapa luas ruang lingkup nusantara itu sendiri.
Pada artikel pertama dijelaskan ruang dari nusantara itu sendiri tidak hanya luas kekuasaan politik Indonesia, tapi jauh lebih luas dari itu. Nusantara terbentang dari pulau Madagaskar hingga Papua nugini,dan dari kepulauan Jepang hingga pulau Rote. Luasan yang terbentang tersebut sebenarnya bukan membahas mengenai luasan politik, tetapi membahas mengenai penyebaran kebudayaan nusantara yang tersebar di beberapa di wilayah Asia.
Pada masyarakat awam melihat kebudayaan(arsitektur) nusantara itu sendiri sebagai sebuah objek dari masa lampau. Hal ini terjadi karena mereka melihat arsitektural dari segi fisiologis dan historis saja tetapi tidak mencakup ruang budaya dan nilai-nilai luhur yang terdapat di dalamnya.
Di nusantara sendiri sebenarnya terdapat berbagai kemajemukan yang memiliki lokalitas masing-masing namun memiliki persamaan pada nilai luhur yang memuliakan manusia di dalamnya. Namun yang ada sekarang tertutupnya kelokalitasan yang ada dengan pengaruh-pengaruh universalitas dari luar sehingga kita kehilangan identitas kita(nusantara). Sedangkan kelokalitasan kita seharusnya dapat dijadikan dasar bagi kita untuk berkembang. Oleh dasar itu kita perlu mengadakan usaha-usaha untuk rekontekstualisasi arsitektur nusantara mengenai kelokalitas-universalitasan yang ada.
nusantara memiliki sebuah ciri khas yang berbeda dengan wilayah asia lainnya. Pada bentangan nusantara memiliki 2 musim yakni hujan dan kemarau sedangkan yang pada wilayah asia yang lainnya memiliki 4 musim. Karena memiliki 2 musim ini, nusantara memiliki kebudayaan, sistem kepercayaan, geografis, sejarah sehingga memiliki cara hidupnya sendiri untuk berkembang dan berkelanjutan.
ciri kehidupan di nusantara memiliki hubungan yang erat dengan lingkungannya tidak hanya secara lahiriah tapi juga secara batiniah. Contohnya seperti daun pada tumbuhan. Daun memiliki manfaat yang sangat besar bagi manusia. Pada arsitektur vernacular, tumbuhan (daun) menjadi elemen struktur (Atap). Hal ini menunjukan bahwa arsitektur nusantara memiliki hubungan yang sangat erat pada lingkungannya yang memberikan dampak yang positif yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya (sebagai makhluk sosial). Ini yang belum terdapat pada arsitektur di Indonesia.
Arsitektur di Indonesia seharusnya memiliki sifat-sifat yang mampu mencirikan kekhasan daerahnya, yg memungkinkan daun untuk menghijau sepanjang tahun, berfostosintesis sepanjang tahun. Itu artinya sinar matahari senantiasa menyinari, air hujan selalu menyirami. Berangkat dari hal tersebut, arsitektur di Indonesia cukuplah yang mampu melindungi kita dari panas dan air hujan yg selalu tinggi intensitasnya. Arsitektur di Negara yg memiliki 4 musim, harus lebih kompleks dalam menyikapi keadaanya tersebut. Di satu sisi dituntut melindungi diri dari sinar matahari , namun di musim salju mereka harus menutup rapat bangunanya , bahkan memiliki pemanas ruangan yang membutuhkan listrik.
Ciri lain pada arsitektur nusantara, selain keakrabannya manusia pada lingkungan (alam) di sekitarnya, yaitu keakrabannya manusia dengan sesamanya. Hal ini seperti yang diungkapkan di atas bahwa manusia esensinya adalah makhluk sosial, yang saling toleransi dan mengasihi antara sesamanya, “keramah tamahan” yang diberikan lingkungan di nusantara inilah yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya (makhluk sosial), hal ini ditunjukkan pada rumah panggung tradisional, selain responnya terhadap iklim, ruang-ruang di dalam maupun di luarnya memberikan hubungan yang saling berkelanjutan antara rumah satu dengan lainnya, halaman, jalan, ladang semuanya meiliki hubungan yang saling berkelanjutan menandakan adanya kesatuan, keharmonisan, dan kebersamaan. Lingkungan tercipta dari vegetasi, pepohonan yang memberikan perlindungan lahiriah dan batiniah yang disebut nuansa surga, kembali mengembalikan manusia pada fitrahnya (makhluk sosial). Hal ini yang hamper mustahil kita dapati pada lingkungan kita (perkotaan) pada masa sekarang yang semakin individual, dikarenakan orientasi barat yang kita anut menghilangkan mental dan pemikiran kita terhadap arsitektur nusantara, yang seharusnya sebagai wadah kita untuk berkembang dan hidup diatas keharmonisan dan kebersamaan Sehingga sekali lagi, kita perlu merekontekstualisasikan arsitektur nusantara.
Sekian posting dari kami peserta Arsitektur Nusantara kelas C, mungkin ada kesalahan penulisan atau pemahaman kami mohon diluruskan. Terima kasih

Anonymous Anonim mengatakan...

Terdapat 3 hal yang dapat kami simpulkan dari artikel di atas.
- Alam di nusantara memberikan karakter pada manusia yang tinggal di dalamnya. Jika alamnya ramah maka manusianyapun juga ramah. Keramahan manusia ini adalah bagaimana mereka bertanggung jawab pada Allah, Tuhan yang menciptakan alam semesta, yaitu dengan cara menjaga dan melestarikannya dan tidak hanya memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan mereka saja.
- Nusantara adalah jembatan penghubung India dan Arab dengan Cina. Terjadi akulturasi antara pengaruh Hindu dan Budha dengan budaya dan agama lokal. Meskipun Islam masuk setelahnya, ternyata agama ini berkembang pesat di Nusantara. Ka’bah merupakan pusat orientasi agama Islam. Menurut Gani, Nusantara memiliki posisi yang eksklusif karena berada di proyeksi sudut antara Multazam dan pintu Ka’bah yang dipercaya orang Muslim sebagai tempat terbaik untuk beribadah. Oleh karena itu, Nusantara merupakan negara dengan penduduk Islam terbanyak di dunia yang dilimpahi kekayaan alam yang berlimpah.
- Dalam beberapa abad belakangan, Nusantara dijajah oleh negara utara (Eropa Barat dan Amerika Utara) dalam bidang pengetahuan, politik, dan ekonomi. Mereka menyebutnya globalisasi. Begitu pula dalam bidang arsitektur yaitu dengan munculnya gaya arsitektur kolonial dan pos-kolonial. Simbolism dibutuhkan dalam politik budaya, tidak hanya sebagai cara mudah untuk membangun mental perilaku tetapi juga untuk menciptakan pandangan pengetahuan yang dapat diterapkan secara benar.
Rizqi Maulidiyah (0710650008)
Juwita Windhasari (0710650009)
Tyas Santri (0710650010)
Fadli Reza Utama (0710653012)
(Kelas A)


Posting Komentar

Mohon tinggalkan akun valid. Terimakasih kunjungan Anda

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda