5 September 2011

Satu-Kesatuan Lokalitas-Universalitas

Galih W. Pangarsa


alam kajian Arsitektur Muslim --termasuk di wilayah budaya Nusantara-- yang muncul pertama kali adalah atributnya: "Muslim" atau "Islam"? Apa beda mendasar dari pemakaian dua istilah itu? Mana yang lebih tepat digunakan? Apa konsekuensi dari tiap penggunaan istilah itu? Para islamolog ahli sejarah seni dan arsitektur marak membicarakan hal itu tigapuluh tahun yang lalu.

Memakai istilah muslim, biasanya langsung mencenderungkan interpretasi pada paradigma sosio-geografis. Secara harafiah, muslim memang menunjuk pada seseorang atau sekelompok orang pemeluk agama Islam di suatu tempat-waktu tertentu, sedangkan Islam, lebih condong berkonotasi pada nilai-nilai atau esensi dari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Hubungan makna antara muslim dan Islam boleh ditamsilkan antara kerangka dan isi. ...menunggu gambar...Lalu, apakah sebagian wujud fisik arsitektural dari Masjidil Haram -- satu-satunya masjid di bumi yang mengelilingi titik kiblat ini—- dipengaruhi oleh lokalitasnya di Jazirah Arab?
Sudah barang tentu wujud fisik itu membawa karakter lokal yang ada pada lingkungan alam dan manusia di Jazirah Arab. Jika demikian keadaan georafis dan sosialnya, maka sebenarnya universalitas Ka'bah -- seperti halnya bangunan lain di belahan bumi manapun-- terwujudkan lewat suatu karakter lokalitas. Apakah setiap muncul karakter sangat khas di suatu daerah, kita mesti menghubungkannya dengan seluruh "mainstream" langgam yang ada? Tidak harus. Ada konsep genius loci. Ada pula teori tacit knowledge yaitu kecerdikan fitriyah dalam arsitektur (Pangarsa, 2006. Merah-Putih Arsitektur Nusantara). Namun tak demikian halnya dengan tradisi pemikiran konvensional para sejarahwan. Claude Guillot, seorang peneliti sejarah Prancis menghubung-hubungkan ciri khas arsitektural masjid Jawa dengan Cina. De Graaf, nama besar dalam kajian sejarah Indonesia khususnya Jawa, memperkaitkan masjid Jawa dengan arsitektur India. Bahkan ada yang menarik dugaaannya bahwa masjid Jawa berasal dari wantilan Bali.

Bagaimana sesungguhnya perkembangan masjid Jawa? Sekitar enam tahun yang lalu ada penelitian tentang sejarah arsitektur masjid Jawa di Universitas Teknologi Toyohashi, dilaksanakan oleh Bambang Setia Budi untuk disertasi doktoralnya. Tentu sangat bermanfaat bila kita mengikuti hasil studinya A Study on the History and Development of the Javanese Mosque, di Journal of Asian Architecture and Building Engineering. Silakan unduh seri tulisan dari tahun 2004 sampai 2006 itu, Bagian 1 , Bagian 2 dan Bagian 3.

PiC.LEECH.iT - FREE iMAGE HOSTiNGMenurut DR. Mohammad Ilyas Abdul Ghani (2004) yang bertahun-tahun meneliti bangunan suci ini, Ka'bah mengalami setidaknya dua belas kali perubahan sejak kali pertama dibangun oleh Nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as. Selama berabad-abad Ka'bah mencerap ciri kesetempatan Arab. Hal yang sangat perlu menjadi catatan adalah bahwa ada yang tetap tak berubah, yaitu pondasi yang tersusun dari batu-batu yang berasal dari lima bukit yang mengelilinginya (menurut riwayat, besar batu-batu pondasinya "bagaikan punggung unta"). Bukankah perubahan-perubahan itu merupakan tamsil bahwa pada Ka'bah pun ada unsur yang tetap dan ada yang berubah? Pasti tak terlalu gegabah jika pada akhirnya kita menyimpulkan bahwa yang tetap ialah esensi universalitas Islam-nya, yang berubah ialah wujud dari lokalitasnya. Yang tetap adalah makna dan hakikat ruhaniyahnya, yang berubah adalah simbol dan fungsi jasadiyahnya. Dapatkah kaum arsitek mengambil pelajaran dari padanya? Pada tiap lingkungan binaan manusia pasti ada sesuatu yang sifatnya tetap dan ada yang berubah. Masjid Nabawi juga dari waktu ke waktu mengalami perluasan. Yang sulit adalah menjawab: bagaimana menanggapi perubahan itu dengan baik? Itulah tujuan utama dari orientasi, kebijakan, politik kebudayaan, atau dengan kata yang lebih jelas: tujuan hidup. Dalam dinamika hidup dan kehidupan manusia, ada pilihan-pilihan yang mesti diambil dengan keputusan yang serba pasti-tepat-bijak. "Ber-arsitektur" pun demikian. Kata “ber-arsitektur” yang populer di kalangan arsitek itu sebetulnya tak lain adalah memproses tumbuh-berkembangnya arsitektur sebagai bagian (sangat, sangat kecil) dari kehidupan manusia dan alam lingkungannya.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Mohon tinggalkan akun valid. Terimakasih kunjungan Anda

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda